Blog MSV Studio



Membongkar Pondasi Produksi Film Animasi Battle of Surabaya

Simak beberapa poin di balik produksi film Battle of Surabaya.

Oleh :

Muhammad Rizal Fikri | 5 September 2015 11:00

 

Muvila.com – Film animasi karya Animator dalam negeri Battle of Surabaya memang baru dirilis 20 Agustus lalu, tetapi proses produksinya sudah mulai dilakukan sejak bulan November 2012. Film animasi Battle of Surabaya (BoS) ini pun menjadi sebuah karya yang spesial karena film ini berhasil meraih beberapa penghargaan sebelum filmnya dirilis. Di tahun 2014, trailer BoS berhasil meraih beberapa penghargaan bergengsi seperti Best Foreign Animation Trailer dalam acara 15th Annual Golden Trailer Award. Selain itu trailer BoS juga memenangkan International Movie Trailer Festival (IMTF) tahun 2103 kategori People's Choice Award.

 

Prestasi yang telah didapatkan tersebut setara dengan tahapan proses produksi filmnya yang kompleks serta dasar pembuatannya yang dipersiapkan matang. Seperti apa persiapannya? Muvila akan memaparkan beberapa fakta di balik pembuatan film animasi Battle of Surabaya yang menurut sang produser Suyanto dipersiapkan untuk menjadi film kelas dunia. Simak selengkapnya mulai halaman berikutnya.

 

1. Latar Belakang Pembuatan Film

Dari segala pertanyaan yang muncul mengenai film animasi Battle of Surabaya (BoS), pertanyaan terpenting dan paling mendasar adalah 'mengapa film ini dibuat?'. BoS dibuat oleh MSV Pictures yang juga disebut sebagai Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Amikom yang ada di Yogyakarta. Menurut pengakuan Suyanto- sang produser, latar belakang pembuatan film BOS adalah sebuah kegundahan di mana selama ini animasi ciptaan Indonesia belum memiliki karakter yang kuat. Meskipun sudah ada animasi-animasi seperti Si Unyil, tetapi dirasa belum ada yang ditujukan untuk penonton global. BOS dibuat dengan tujuan bisa menembus hal itu, dari Indonesia untuk penonton global se-dunia.

 

Suyanto mengamati selama ini bahwa meski sudah ada perusahaan animasi dalam negeri yang terlibat produksi animasi yang rutin tetapi itu semua masih lebih condong ke pesanan pihak ketiga. Dari situ nama Indonesia jarang bahkan hampir tidak disebut. BoS ingin mendobrak hal itu. BoS dihadirkan sebagai sebuah karya animasi yang membawa nama Indonesia di dalamnya, tak hanya dari cerita tetapi juga pembuatnya. Harapan Suyanto dan tim adalah ke depannya mereka bisa menjadi pusat animasi dalam negeri yang bertaraf internasional.

 

2. Riset Khusus Yang Dilakukan

Selain sebagai produser film BoS, Suyanto adalah pimpinan dari Amikom dan seorang penulis buku tentang multimedia berjudul The Oscar Winners And Box Office: The Secret of Screenplay. Suyanto menegaskan bahwa film BoS tercipta dengan didahului sebuah riset. Film BoS adalah film fiksi yang dileburkan dengan sejarah. Ada porsi cerita dalam filmnya yang fiksi, ada porsi lainnya yang diambil dari fakta sejarah. Suyanto memberi contoh mengenai Organisasi Kipas Hitam, "Dalam sejarah organisasi ini tidak ada, tetapi berdasarkan riser kami ada, makan di film kami tampilkan,” jelas Suyanto seperti dikutip Indonesiakreatif.net.

 

Suyanto juga menjelaskan dalam beberapa hal karakter itu tidak bisa dibuat-buat atau diplesetkan. Karakter utama film BOS ini seorang anak kecil bernama Musa sudah jelas-jelas karakter fiktif, tetapi untuk karakter proklamator Soekarno dan Hatta adalah karakter yang diambil dari manusia nyata dan terhubung dengan sebuah momen khusus yang dianggap bersejarah, untuk hal ini BOS menampilkannya sesuai dengan kenyataan.

 

Selain riset lapangan yang dilakukan tim produksi, Suyanto mengaku berpegang pada buku yang ditulisnya The Oscar Winner And Box Offcie: The Secret of Screenplay. Melalu buku tersebut Suyanto mengajarkan kepada para animator muda untuk membuat sebuah cerita berlatar belakang sejarah dengan benar, tetapi ditambah dengan inovasi cerita tanpa merusak sejarahnya.

 

3. Proses Membangun Karater Yang Modern

Battle of Surabaya memiliki tiga karakter utama Musa, Yumna dan Danu. Musa digambarkan sebagai anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Yumna sendiri adalah sosok berwajah Tionghoa dari keluarga yang bahagia. Terakhir Danu orang Indonesia biasa yang digambarkan mempunyai sifat yang labil.

 

Dalam mengembangkan karakter dalam BOS, Suyanto juga mengungkapkan bahwa dirinya dan tim juga menggunakan pendekatan etnografi agar karakter di falam filmnya bisa diterima secara global, kembali ke tujuan awal untuk membuat BoS diterima secara universal. Bahkan Suyanto mengaku bahwa karakter animasi Jepang masih sangat mempengaruhi film BOS, tetapi hal itu dilakukan dengan tujuan khusus (Simak penjelasannya di halaman/poin selanjutnya, Red.).

 

Dalam membangun karakter dan jalan cerita yang ada di film BOS ini tim produksi menerapkan teori-teori yang sudah sering dilakukan dalam proses produksi film Hollywood. Mengutip teori The Hero's Journey, sebuah pola naratif dalam drama yang diungkapkan oleh Joseph Campbell. Teori ini bertujuan untuk membagi-bagi tahapan-tahapan dalam sebuah karakter atau cerita agar cerita tersebut bisa berkembang secara dinamis dan menciptakan satu kesatuan cerita yang ideal.

 

BoS menerapkan tahapan-tahapan tersebut yang terdiri dari 12 tahap. “Pola kami dalam menulis seperti itu, sehingga didapatkan perjalanan fisik sekaligus perjalanan jiwa,” ungkap Suyanto seperti dikutip Indonesiakreatif.net.

 

4. Pengaruh Disney dan Ghibli

Suyanto membenarkan bahwa BoS masih terpengaruh dengan teknik-teknik dari studio-studio besar seperti Ghibli atau Disney. Hal ini dilakukan pertama karena isi buku yang ditulis Suyanto. Inti dari produksi film ini adalah bagaimana film tersebut bisa menciptakan culture ideation, dalam prosesnya mengadaptasi desain yang sudah apa pun sah-sah saja. Ketika diberi pertanyaan tentang keinginan membuat animasi yang menggunakan gaya Indonesia, Suyanto kembali menegaskan mengenai culture, ideation dan inovation.

 

“Jadi yang penting itu adalah adanya culture, ideation dan ada inovation. Dari yang saya pelajari di Taiwan tentang design production, kuncinya adalah Hollywood technique. Oleh karena itu teknik sementara memakai teknik mainstream itu sah-sah saja, karena pasar yang bebas sekrang baru itu. Pendekatan awal adalah pasar dulu. Nanti kalau kita sudah dikenal, mau seenaknya bebas,” jelas Suyanto panjang lebar.

 

Menurut Suyanto sejauh ini teknik yang layak digunakan masih Hollywood, kemudian untuk film 2D terbaik, Studio Ghibli masih memimpin. “Kita mau menyaingi Ghibli besok,” yakin Suyanto.

 

Sumber :

http://www.muvila.com/film/artikel/mengintip-proses-produksi-battle-of-surabaya-1509043.html

 

 

 

 

 

 



[X]

Subscribe for our all latest News and Updates

Enter your email address:

Artikel terbaru


9 Nov 2017

Unsur Animasi 2D dalam Naura & Genk Juara

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyanyi Nola "B3" mengatakan meskipun Naura & Genk Juara, sarat pesan edukatif, film tersebut tak berniat menggurui penonton. "Fi...
read more ›

17 Oct 2017

Rayakan HUT ke-15, MSV Pictures Tekad Masuk Lima Besar Asean 2020

Oleh : Danar Widiyanto SLEMAN, KRJOGJA.com - MSV (Mataram Surya Visi) Pictures, salah satu badan usaha Universitas Amikom Yogyakarta yang bergerak di bidang...
read more ›

10 Oct 2017

Membongkar Pondasi Produksi Film Animasi Battle of Surabaya

Simak beberapa poin di balik produksi film Battle of Surabaya. Oleh : Muhammad Rizal Fikri | 5 September 2015 11:00   Muvila.com – Film animasi...
read more ›

9 Oct 2017

Film Animasi 'Battle of Surabaya' Berawal dari Serial TV yang Tak Dianggap

Karakter Musa, bocah kurir surat di tengah gempuran Pertempuran 10 November   Oleh : M. Iqbal Fazarullah Harahap   Jakarta - Mungkin tim film a...
read more ›

8 Oct 2017

Remember You (From "Battle of Surabaya") Eileen Shannon

The Lyrics for Remember You (From "Battle of Surabaya") by Eileen Shannon have been translated into 1 languages     Will I ever found? A qu...
read more ›